Showing posts with label Ibadah. Show all posts
Showing posts with label Ibadah. Show all posts

Renungan Jum'at

Masih seputar rezeki, renungan yang bagus untuk hari penuh berkah ini..:

Aku melihat hidup orang lain begitu nikmat,
Ternyata ia hanya menutupi kekurangannya tanpa berkeluh kesah..

Aku melihat hidup teman2ku tak ada duka dan kepedihan,
Ternyata ia hanya pandai menutupi dengan mensyukuri..

Aku melihat hidup saudaraku tenang tanpa ujian,
Ternyata ia begitu menikmati badai hujan dlm kehidupannya..

Aku melihat hidup sahabatku begitu sempurna,
Ternyata ia hanya berbahagia menjadi apa adanya..

Aku melihat hidup tetanggaku beruntung,
Ternyata ia selalu tunduk pada Allah untuk bergantung..

Setiap hari aku belajar memahami dan mengamati setiap hidup orang yang aku temui..

Ternyata aku yang kurang mensyukuri nikmat-Mu..

Bahwa di belahan dunia lain banyak yang belum seberuntung yang aku miliki saat ini....

Dan satu hal yang aku ketahui, bahwa Allahu Rabbi tak pernah mengurangi ketetapan-Nya.
Hanya aku lah yang masih saja  mengkufuri nikmat suratan Ilahi...

Maka aku merasa tidak perlu iri hati dengan rezeki orang lain..

Mungkin aku tak tahu dimana rezekiku.. Tapi rezekiku tahu dimana diriku..

Dari lautan biru, bumi dan gunung, Allah Ta'ala telah memerintahkannya menuju kepadaku...

Allah Ta'ala menjamin rezekiku, sejak 9 bulan 10 hari atau 7 x 40 hr aku dalam kandungan ibuku..

Amatlah keliru bila bertawakkal rezeki dimaknai dari hasil bekerja..

Karena bekerja adalah ibadah, sedang rezeki itu urusan-Nya..

Melalaikan kebenaran demi menghawatirkan apa yang dijamin-Nya, adalah kekeliruan berganda..

Manusia membanting tulang, demi angka simpanan gaji, yang mungkin esok akan ditinggal mati..

Mereka lupa bahwa hakekat rezeki bukan apa yang tertulis dalam angka, tapi apa yang telah dinikmatinya..

Rezeki tak selalu terletak pada pekerjaan kita, Allah menaruh sekehendak-Nya..

Diulang bolak balik 7x shafa dan marwa, tapi zamzam justru muncul dari kaki sang bayi, Ismail a.s.
Ikhtiar itu perbuatan.. Rezeki itu kejutan..

Dan yang tidak boleh dilupakan, tiap hakekat rezeki akan ditanya kelak..
"Darimana dan digunakan untuk apa"
Karena rezeki hanyalah "hak pakai", bukan "hak milik"...

Halalnya saja dihisab..dan haramnya diadzab..!!

Maka, aku tidak boleh merasa iri pada rezeki orang lain..

Bila aku iri pada rezeki orang, sudah seharusnya juga iri pada takdir kematiannya....

Astaghfirullah...

I'ktikaf Dasar dan Tuntunan

Oleh MUHAMMAD  BUSYROWI  ABDULMANNAN
I. PENGERTIAN
A. Menurut bahasa, dari kata : ‘akafa mendapat imbuhan menjadi  I’takafa masdarnya I’tikaafan , artinya diam atau timggal sejenak
B. Menurut istilah , ialah sengaja tinggal sejenak (dalam bahasa jawa : ngelengake) di masjid pada bulan ramadhan untuk semata-mata beribadah mengharap pahala dari Allah SWT
II. DASAR HUKUM I’TIKAF
1. QS Al Baqoroh : 125, 187
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ (١٢٥)
125. Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[Ialah tempat berdiri Nabi Ibrahim a.s. diwaktu membuat Ka'bah.] tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud".
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ فَالآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ وَلا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (١٨٧)
187. Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf[I'tikaf ialah berada dalam mesjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah.] dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.
2. Hadits yang membahas I’tikaf antara lain diriwayatkan oleh :
a. Imam Bukhori      : kurang lebih 32hadits
b. Imam Muslim       : kurang lebih 26 hadits
c. Imam Abu dawud : kurang lebih 15 hadits
d. Imam Turmudzi    : kurang lebih 7 hadits
Para Ulama sepakat bahwa i'tikaaf disyari'atkan dalam agama Islam dan Nabi SAW  selalu  mengerjakan sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits.

"Dari 'Aisyah ra, istri Nabi SAW, ia berkata : "Adalah Nabi SAW, biasa i'tikaf  pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, sampai beliau wafat kemudian  istri-istri beliau melaksanakan i'tikaaf sepeninggalnya". (Hadist riwayat Bukhari 2 : 255. Fathul Baari 4 : 271 Nomor 2462. Ahmad 6 : 292 dan Baihaqy 4 : 315, 320).
Dalam hal ini Rasulullah saw. bersabda :
عن ابن عمر رضي الله عنهما قال :كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يعتكف العشر الأواخر من رمضان ، متفق عليه .
" Dari Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah saw. biasa beri'tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan." (Hadits riwayat Bukhari dan Muslim)
عن أبي هريرة رضى الله عنه قال كان النبي صلى الله عليه وسلم يعتكف في كل رمضان عشرة أيام فلما كان العام الذي قبض فيه اعتكف عشرين يوما ـ رواه البخاري.

"  Dari Abu Hurairah R.A. ia berkata, Rasulullah SAW. biasa beri'tikaf pada tiap bulan Ramadhan sepuluh hari, dan tatkala pada tahun beliau meninggal dunia beliau telah beri'tikaf selama dua puluh hari. (Hadist Riwayat Bukhori).

Maksud dari kalimat Menghidupkan malamnya, artinya beliau sedikit sekali tidur dan banyak melakukan shalat dan dzikir.
Membangunkan istrinya, ya'ni menyuruh mereka shalat malam/tarawih serta  melakukan ibadah-ibadah lainnya. 
Mengikat kainnya, adalah satu kinayah bahwa beliau sungguh-sungguh beribadah  dan tidak bercampur dengan istri-istrinya, karena beliau selalu melakukan  iti'kaaf setiap sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan, sedangkan orang yang   i'tikaaf tidak tidak boleh bercampur dengan istrinya. (Lihat Subulus Salam 2 :   356-357.

Fiqhul Islam Syarah Bulughul Maram 3 : 257-258)."'Aisyah berkata:
Aisyah ra. mengatakan:
« كَانَ رسولُ اللهِ – صلى الله عليه وسلم – يَجْتَهِدُ في رَمَضَانَ مَا لاَ يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ، وَفِي العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْهُ مَا لا يَجْتَهِدُ في غَيْرِهِ ».

"Adalah Rasulullah SAW, bersungguh-sungguh pada sepuluh terakhir (dari bulan Ramadhan) melebihi kesungguhannya di malam-malamnya".(Hadits Shahih riwayat : Ahmad dan Muslim 3 : 176).
Dari Abu Hurairah, ia berkata,
كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَعْتَكِفُ فِى كُلِّ رَمَضَانَ عَشْرَةَ أَيَّامٍ ، فَلَمَّا كَانَ الْعَامُ الَّذِى قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri’tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri’tikaf selama dua puluh hari”.[3]
Waktu i’tikaf yang lebih afdhol adalah di akhir-akhir ramadhan (10 hari terakhir bulan Ramadhan) sebagaimana hadits ‘Aisyah, ia berkata,
أَنَّ النَّبِىَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri beliau pun beri’tikaf setelah kepergian beliau.”[4]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dengan tujuan untuk mendapatkan malam lailatul qadar, untuk menghilangkan dari segala kesibukan dunia, sehingga mudah bermunajat dengan Rabbnya, banyak berdo’a dan banyak berdzikir ketika itu.[5]

Setiap ibadah yang nashnya sudah jelas dari Al-Qur'an dan Sunnah yang shahih, maka itu pasti mempunyai keutamaan, meskipun tidak disebutkan keutamaannya, begitu pula tentang i'tikaaf, walaupun i'tikaaf itu merupakan taqarrub kepada Allah akan tetapi tidak ditemukan sebuah hadits pun menyatakan keutamaannya.
Berkata Imam Abu Dawud As-Sijistany : "Saya bertanya kepada Imam Ahmad : Tahukah engkau suatu keterangan mengenai keutamaan i'tikaaf ? Jawab beliau : tidak
kudapati, kecuali ada sedikit riwayat, dan riwayat inipun lemah.
(Lihat Al-Mughni, 4 : 455-456 dan Silsilah Ahaadist Dha'ifah dan Maudhu'-ah No. 518).

III. TEMPAT I’TIKAF
Mengenai tempat I’tikaf didapat keterangan dari ulama yang bernamaYazid bin Abdul Qadir Jawas :
1. Tempat I’tikaf ialah (hanya dapat dilakukan) di masjid.
2. Pada zaman Nabi, orang atau keluarga yang  beri’tikaf sampai ada yang mendirikan kemah di dalam masjid karena kondisi masjid pada waktu itu masih berupa tanah lapang. Oleh sebab itu ada hukum yang tidak membolehkan hub. Sex suami istri ketika sedang I’tikaf.Mengenai Masjid yang Shah Dipakai Untuk I'tikaaf Para fuqaha' berbeda pendapat mengenai masjid yang shah dipakai untuk i'tikaaf, dalam hal ini ada beberapa pendapat, yaitu : Sebagian ulama berpendapat bahwa i'tikaaf itu hanya dilakukan di tiga masjid, yaitu : Masjid Haram, Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Pendapat ini adalah   pendapat Sa'ad bin Al-Musayyab.
3.  Kata Imam Nawawi : "Aku kira riwayat yang   dinukil bahwa beliau berpendapat demikian tidak shah".   Imam Abu Hanifah, Imam Ahmad, Ishaaq dan Abu Tsur berpendapat bahwa i'tikaaf  itu shah dilakukan di setiap masjid, yang dilaksanakan pada shalat lima waktu   dan didirikan jama'ah.  
4. Imam Malik, Imam Syafi'i dan Abu Dawud berpendapat bahwa i'tikaaf itu syah   dilaksanakan pada setiap masjid, karena tidak ada keterangan yang shah yang   menegaskan terbatasnya masjid sebagai tempat untuk melaksanakan i'tikaaf. Sesudah membawakan beberapa pendapat, kemudian Imam Nawawi berkata : "I'tikaaf itu shah dilakukan di setiap masjid dan tidak boleh dikhususkan masjid manapun juga kecuali dengan dalil.
5. Sedang dalam hal ini tidak ada dalil yang jelas yang mengkhususkannya". (Lihat Al-Majmu' Syahrul Muhadzdzab 6 : 483). 
6. Ibnu Hazm : "I'tikaaf itu shah dan boleh dilakukan di setiap masjid, baik di   situ dilaksanakan shalat Jum'at atau tidak". (Lihat Al-Muhalla 5 : 193, masalah No. 633). 
7.  Kata Abu Bakar Al-Jashshash : "Telah terjadi itifaq diantara ulama Salaf,   bahwa diantara syarat i'tikaaf harus dilakukan di masjid, dengan perbedaan  pendapat diantara mereka tentang apakah masjid-masjid tertentu atau di masjid  mana saja (pada umumnya) bila dilihat zhahir firman Allah :"Sedangkan kamu  dalam beri'tikaaf di masjid". (QS 2 : 187).
8. Ayat ini membolehkan i'tikaaf d  semua masjid berdasarkan keumuman lafadznya, karena itu siapa saja yang   mengkhususkan ma'na ayat itu mereka harus menampilkan dalil, demikian juga   yang mengkhususkan hanya masjid-masjid Jami' saja tidak ada dalilnya,  sebagaimana halnya pendapat yang mengkhususkan hanya masjid-masjid para Nabi   (yaitu : Masjid Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsha).
9. Karena (pendapat   yang mengkhususkan) tidak ada dalilnya, maka gugurlah pendapat tersebut.   (Lihat Ahkaamul Qur'an, Al-Jashshash 1 : 285 dan Rawaai'ul Bayaan Fii Tafsiiri   Ayaatil Ahkam 1 : 41-215). Menurut jumhur ulama, tidaklah akan shah bagi seorang wanita beri'tikaaf di masjid rumahnya sendiri, karena masjid di dalam rumah tidak bisa dikatakan masjid, lagi pula keterangan yang sudah shah menerangkan bahwa isteri-isteri Nabi SAW, melakukan i'tikaaf di Masjid Nabawi. (Lihat Fiqhus Sunnah 1 : 402).
10. Tentang wanita i'tikaaf di masjid diharuskan membuat kemah tersendiri terpisah dari laki-laki, dan untuk masa sekarang harus dipikirkan tentang fitnah yang akan terjadi bila para wanita hendak i'tikaaf, ikhtilath dengan laki-laki di tempat yang sudah semakin banyak fitnah.
11. Adapun soal bolehnya para ulama membolehkan, dan di usahakan untuk tidak saling pandang-memandang antara laki-laki dan wanita.(Lihat Al-Mughni 4 : 464-465, baca Fiqhul Islam syarah Bulughul Maram 3 : 260)
Kesimpulannya, I’tikaf  sah dilakukan di masjid mana pun yang selalu digunakan untuk jamaah sholat lima waktu , baik masjid itu digunakan jumatan atau tidak. Baca pendapat Ibnu Hazm

IV. WAKTU MEMULAI DAN MENGAKHIRI I'TIKAAF
Yazid Al Jawas berpendapat : Maka bila seseorang telah masuk masjid dan berniat taqarrub kepada Allah dengan tinggal di dalam masjid beribadah beberapa saat, berarti ia beri'tikaaf sampai ia keluar. Dan jika seseorang berniat hendak i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, maka hendaklah ia mulai masuk masjid sebelum matahari terbenam.
Pendapat yang menerangkan bahwa masuk i'tikaaf sebelum matahari terbenam pada tanggal 20 Ramadhan malam ke 21, adalah pendapat Imam Malik, Imam Hanafi, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya.
(Lihat Syarah Muslim, 8 : 68, Majmu' Syahrul Muhadzdzab 6 : 492. Fathul Baari 4 : 277. Al-Mughni 4 : 489-490 dan Bidayatul Mujtahid 1 : 230). Dalil mereka ialah : Riwayat i'tikaaf-nya Rasulullah SAW di awal Ramadhan, pertengahan dan akhir Ramadhan, kemudian bersabda : "Barangsiapa yang hendak beri'tikaaf bersamaku, hendaklah ia melakukannya pada sepuluh malam terakhir (dari bulan Ramadhan) ..."
(Hadits Shahih riwayat Bukhari 2 : 256 dan Muslim 2 : 171-172) "Sepuluh terakhir", maksudnya ialah nama bilangan malam, dan bermula pada malam ke dua puluh satu atau malam ke dua puluh. (Lihat Fiqhus Sunnah 1 : 403). Tentang Hadits 'Aisyah : "Kata 'Aisyah : "Adalah Nabi SAW, bila hendak i'tikaaf, beliau shalat shubuh dulu, kemudian masuk ke tempat i'tikaaf ".
(Hadist Shahih riwayat Bukhari 2 : 257 dan Muslim 3 : 175). Hadits ini dijadikan dalil oleh orang yang berpendapat bahwa permulaan waktu i'tikaaf adalah di permulaan siang. Ini menurut pendapat Al-Auza'i, Al-Laits dan Ats-Tsauri. (lihat Nailul Authar 4 : 296). Hadits 'Aisyah di atas maksudnya ialah bahwa Nabi SAW, masuk ke tempat yang sudah disediakan untuk i'tikaaf di masjid setelah beliau selesai mengerjakan shalat Shubuh.
Jadi bukan masuk masjidnya ba'da Shubuh. Adapun masuk ke masjid untuk i'tikaaf tetap di awal malam sebelum terbenam matahari. (Lihat Fiqhus Sunnah 1 : 403). Mengenai waktu keluar dari masjid setelah selesai menjalankan i'tikaaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, menurut Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi'i waktunya adalah sesudah matahari terbenam (di akhir Ramadhan).
Sedangkan menurut Imam Ahmad disunnahkan ia tinggal di masjid sampai waktu shalat 'Idul Fitri. Jadi keluar dari masjid ketika ia keluar ke lapangan mengerjakan shalat 'Id. Akan tetapi menurut mereka boleh pula keluar dari masjid setelah matahari terbenam. (Lihat Bidayaatul Mujtahid 1 : 230 dan Al-Mughni 4 : 490).
Jadi kesimpulan empat Imam sepakat bahwa i'tikaaf berakhir dengan terbenamnya matahari di akhir Ramadhan. Kata Ibrahim : "Mereka menganggap sunnat bermalam di masjid pada malam 'Idul Fitri bagi orang yang beri'tikaaf pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan, kemudian pagi harinya langsung pergi ke lapangan (untuk shalat I'dul Fitri)". (Baca Al-Mugni 4 : 490-491).
Dan orang yang bernadzar akan beri'tikaaf satu hari atau beberapa hari tertentu, atau bermaksud melaksanakan i'tikaaf sunnat, maka hendaknya ia memulai i'tikaafnya itu sebelum terbit fajar, dan keluar dari masjid bila matahari sudah terbenam, baik i'tikaaf itu di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya.
(Lihat Bidayaatul Mujtahid 1 : 230. Al-Majmu' Syahrul Muhadzdzab 6 : 494. Fiqhus Sunah 1 : 403-404).
Kata Ibnu Hazm : Orang yang bernadzar hendak i'tikaaf pada satu malam atau beberapa malam tertentu, atau ia hendak melaksanakan i'tikaaf sunnat, maka hendaklah ia masuk ke masjid sebelum terbenam matahari, dan keluar dari masjid bila sudah terbitnya fajar. Sebabnya karena permulaan malam ia saat yang mengiringi terbenamnya matahari, dan ia berakhir dengan terbitnya fajar. Sedangkan permulaan siang adalah waktu terbitnya fajar dan berakhir dengan terbenamnya matahari. Dan seseorang tidak dibebani kewajiban melainkan menurut apa yang telah diikrarkan dan diniatkannya.
(Lihat Al-Muhalla 5 : 198 masalah No. 636).
Mana saja hari yang dipilih, sejak tanggal 1 ramadhan s.d. akhir ramadhan. Atau Setiap malam tanggal gasal ( 21, 23, 25, 27, 29 )
Nabi membiasakan selama 10 hari di akhir ramadhan , mulai malam 21 ramadhan)
V. IBADAH  SELAMA I’TIKAF
Pada dasarnya semua ibadah bisa dilakukan pada saat I’tikaf, antara lain :
tadarus Al  Quran, dzikir, Doa, telaah kitab ( aqidah, tafsir , hadits , fiqh, akhlaq, mawaris , dll ).
     Yang pokok ialah merenung ( kontemplasi / taqorrub ilallooh):
1. ialah merenung (bersyukur)  atas semua amal baik, untuk ditingkatkan tahun  yad.
2. dan merenung ( bertaubat ) atas segala dosa yang telah diperbuat  dan minta ampunan, serta berusaha menjauhi pada tahun mendatang
Oleh sebab itu doa kusush I'tikaf ialah : ALLOOHUMMA INNAKA NGAFUWWUN TUHIBBUL NGAFWA FA'FU NGANNIY.
( pada bacaan innaka ngafuwwun jangan ditambah KARIIM, karena itdak ada haditsnya )
Oleh karena itu bagi remaja yang masih punya waktu luang  dan orang tua yang telah berumur 60 keatas,  I’tikaf adalah waktu yang sangat bagus untuk peningkatan ibadah. Dan agar ada semangat dan gairah alangkah baiknya jika diadakan I’tikaf  berjamaah, diorganisir / dibentuk kepanitiaan.     Kalau benar-benar cara I’tikaf ini ditangani, saya yakin hasilnya melebihi  BATRA ( BASIC TRAINING) PII TEMPO DOELOE  atau  PENGKADERAN  PEMUDA - NA YANG SELAMA INI DILAKU KAN.
VI. ADAB I’TIKAF
1. Selalu berada di dalam masjid, kecuali keperluan  mendesak seperti berak, dll. Oleh sebab itu makan berbuka dan makan sahur ( sebaiknya) dikirim oleh keluarga
2. Selalu dalam keadaan suci dari hadats, setiap batal,  berwudlu lagi
3. Tidak hubungan sex suami-istri  ( jelas untuk kondisi masjid saat sekarang ini tidak mungkin untuk melakukannya).
4. I’tikaf dimulai menjelang maghrib ( malam 21 ramadhan ) berakhir hingga menjelang Shubuh ( malam 29 ramadhan ) 
5. Walau pun  ketentuan dasar I’tikaf  waktu I’tikaf sebagaimana tersebut diatas, namun kapan saja masuk masjid dan hanya sekejab , baik di malam atau siangnya di bulan Ramadhan dan diniyatkan I’tikaf. Sudah mencukupi I’tikaf

VIII CONTOH  I’TIKAF BERSAMA ( JAMAAH)
Sebulan sebelum ramadhan sudah terbentuk kepanitiaan yang sebaiknya didominasi oleh wa nita, ( hal ini  dimaksud agar pesertanya khusus  pria ) .
Jadwal I’tikaf berjamaah , sebagai contoh tersebut di bawah ini, mengambil materi Buku Himpunan Putusan Majlis  Tarjih :
1.  HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1. 15.30 – 19.00   = ta’jil
shalat maghrib berjamaah ( I'tkaf malam pertama )
berbuka puasa  
shalat isyak berjamaah
2. 19.00 - 21.30  = session ke 1 : PENGERTIAN/ISTILAH  AL HADITS    oleh Bp.       
3. 21.30 – 23.00    = ssesion ke 2  : tadarus  Al Qur’an
4. 23.00 – 24.00    = tidur                                        
2.  HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1.  01.00 –  02.00   = tidur
     2.  02.00  -  03.00   = Shalat lail / tahajjud berjamaah
     3.  03.00 –  imsak   = makan sahur
     4.  04.00 –  06.00   = shalat shubuh berjamaah  dan kuliyah shubuh
     5.  06.00 –  09.00   = mandi, qoilulah (tidur sejenak)
6.  09.00 -  10.30    = session ke  3  : ROWI, MATAN, SANAD  
     7. 10.30 – 12.00    =  session ke    4 : SEJARAH  PERTUMBUHAN HADITS
     8. 12.00 – 12. 30   = shalat dhuhur berjamaah   
     9. 12.30 – 15.00    = tidur siang
   10. 15.00 -  16.30    = session ke 5 : HADITS SEBAGAI SUMBER HUKUM
   11. 16.30 – 17.30    = mandi sore/ pengajian menjelang ta’jil
   12. 17.30 – 19.00   = ta’jil
                             shalat maghrib berjamaah ( I'tikaf malam kedua )
                             berbuka puasa
                             shalat isyak berjamaah
    13. 19.00  -  21.30   = session ke 6   :  HADITS QUDSI
    14. 21.30  -  23.00   = session ke   7 : tadarrus Al Qur’an
    15. 23.00 – 24.00    = tidur                                        
3.  HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1.  01.00 –  02.00   = tidur
     2.  02.00  -  03.00   = Shalat lail / tahajjud berjamaah
     3.  03.00 –  imsak   = makan sahur
     4.  04.00 –  06.00   = shalat shubuh berjamaah  dan kuliyah shubuh
     5.  06.00 –  09.00   = mandi, qoilulah (tidur sejenak)
     6.  09.00 -  10.30   = session ke   8 : PENGANTAR ILMU MUSTHOLAH HADITS
     7. 10.30 – 12.00    =  session ke    9 : KLASIFIKASI  HADITS
     8. 12.00 – 12. 30   = shalat dhuhur berjamaah   
     9. 12.30 – 15.00    = tidur siang
   10. 15.00 -  16.30    = session ke 10 :  KLASIFIKASI HADITS
   11. 16.30 – 17.30    = mandi sore/ pengajian menjelang ta’jil
   12. 17.30 – 19.00    = ta’jil
                             shalat maghrib berjamaah ( I'tikaf malam ketiga )
                             berbuka puasa
                             shalat isyak berjamaah
    13. 19.00  -  21.30   = session ke   11 : MENERIMA / MERIWAYATAN HADITS 
    14. 21.30  -  23.00   = session ke   12 : tadarrus Al Qur’an
    15. 23.00 – 24.00    = tidur                                        
4. HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1.  01. 00  -  03.00       = Shalat lail / tahajjud berjamaah
     3.  03.00 –  imsak   = makan sahur
4.  04. 00 –  02.00   = tidur
     2.  02.–  06.00         = shalat shubuh berjamaah  dan kuliyah shubuh
     5.  06.00 –  09.00   = mandi, qoilulah (tidur sejenak)
     6.  09.00 -  10.30    = session ke  13  : PENGERTIAN/MENGENAL SAHABAT
     7. 10.30 – 12.00     =  session ke   14  : SEJARAH RINGKAS SAHABAT/TABI’IN
     8. 12.00 – 12. 30    = shalat Jumat   
     9. 12.30 – 15.00     = tidur siang
   10. 15.00 -  16.30    = session ke 15 :MENGENAL KUTUBUSSITTAH
      11. 16.30 – 17.30     = mandi sore/ pengajian menjelang ta’jil
   12. 17.30 – 19.00     = ta’jil
                              shalat maghrib berjamaah ( I'tikaf malam keempat )
                              berbuka puasa
                              shalat isyak berjamaah
    13. 19.00  -  21.30   = session ke  16  :  MENGENAL  6 IMAM HADITS
    14. 21.30  -  23.00    = session ke  17  : tadarrus Al Qur’an
    15. 23.00 – 24.00     = tidur                          
5. HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1.  01.00 –  02.00   = tidur
     2.  02.00  -  03.00   = Shalat lail / tahajjud berjamaah
     3.  03.00 –  imsak   = makan sahur
     4.  04.00 –  06.00   = shalat shubuh berjamaah  dan kuliyah shubuh
     5.  06.00 –  09.00   = mandi, qoilulah (tidur sejenak) :
     6.  09.00 -  10.30    = session ke  18  : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 1, 2 3
     7. 10.30 – 12.00    =  session ke   19  : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 4
     8. 12.00 – 12. 30   = shalat dhuhur berjamaah   
     9. 12.30 – 15.00    = tidur siang
   10. 15.00 -  16.30    = session ke 20: TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 4
   11. 16.30 – 17.30    = mandi sore/ pengajian menjelang ta’jil
   12. 17.30 – 19.00   = ta’jil
                             shalat maghrib berjamaah ( I'tikaf malam kelima )
                             berbuka puasa
                             shalat isyak berjamaah
    13. 19.00  -  21.30   = session ke  21  : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 5
    14. 21.30  -  23.00   = session ke 22   : tadarrus Al Qur’an
    15. 23.00 – 24.00    = tidur                                        
6 . HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1.  01.00 –  02.00   = tidur
     2.  02.00  -  03.00   = Shalat lail / tahajjud berjamaah
     3.  03.00 –  imsak   = makan sahur
     4.  04.00 –  06.00   = shalat shubuh berjamaah  dan kuliyah shubuh
     5.  06.00 –  09.00   = mandi, qoilulah (tidur sejenak)
     6.  09.00 -  10.30    = session ke 23   : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 5
     7. 10.30 – 12.00    =  session ke  24   : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 6
     8. 12.00 – 12. 30   = shalat dhuhur berjamaah   
     9. 12.30 – 15.00    = tidur siang
   10. 15.00 -  16.30    = session ke 25 : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 6
   11. 16.30 – 17.30    = mandi sore/ pengajian menjelang ta’jil
   12. 17.30 – 19.00   = ta’jil
                             shalat maghrib berjamaah
                             berbuka puasa
                             shalat isyak berjamaah
    13. 19.00  -  21.30   = session ke  26  : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 7
    14. 21.30  -  23.00   = session ke  27  : tadarrus Al Qur’an
    15. 23.00 – 24.00    = tidur                                        
7. HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1.  01.00 –  02.00   = tidur
     2.  02.00  -  03.00   = Shalat lail / tahajjud berjamaah
     3.  03.00 –  imsak   = makan sahur
     4.  04.00 –  06.00   = shalat shubuh berjamaah  dan kuliyah shubuh
     5.  06.00 –  09.00   = mandi, qoilulah (tidur sejenak)
     6.  09.00 -  10.30    = session ke  28  : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 7
   7. 10.30 – 12.00    =  session ke   29  : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 8
     8. 12.00 – 12. 30   = shalat dhuhur berjamaah   
     9. 12.30 – 15.00    = tidur siang
   10. 15.00 -  16.30    = session ke 30: TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 9
   11. 16.30 – 17.30    = mandi sore/ pengajian menjelang ta’jil
   12. 17.30 – 19.00   = ta’jil
                             shalat maghrib berjamaah ( I'tikaf malam ketujuh )
                             berbuka puasa
                             shalat isyak berjamaah
    13. 19.00  -  21.30   = session ke 31   : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 10
    14. 21.30  -  23.00   = session ke   32 : tadarrus Al Qur’an
    15. 23.00 – 24.00    = tidur                                        
8.   HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1.  01.00 –  02.00   = tidur
     2.  02.00  -  03.00   = Shalat lail / tahajjud berjamaah
     3.  03.00 –  imsak   = makan sahur
     4.  04.00 –  06.00   = shalat shubuh berjamaah  dan kuliyah shubuh
     5.  06.00 –  09.00   = mandi, qoilulah (tidur sejenak)
     6.  09.00 -  10.30    = session ke 33   : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 11
     7. 10.30 – 12.00    =  session ke  34   : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 12
     8. 12.00 – 12. 30   = shalat dhuhur berjamaah   
     9. 12.30 – 15.00    = tidur siang
   10. 15.00 -  16.30    = session ke 35 : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB13
   11. 16.30 – 17.30    = mandi sore/ pengajian menjelang ta’jil
   12. 17.30 – 19.00   = ta’jil
                             shalat maghrib berjamaah ( I'tikaf malam kesemilan )
                             berbuka puasa
                             shalat isyak berjamaah
    13. 19.00  -  21.30   = session ke  36  : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 14  
    14. 21.30  -  23.00   = session ke  37  : tadarrus Al Qur’an
    15. 23.00 – 24.00    = tidur                                        
9. HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
1.  01.00 –  02.00   = tidur
     2.  02.00  -  03.00   = Shalat lail / tahajjud berjamaah
     3.  03.00 –  imsak   = makan sahur
     4.  04.00 –  06.00   = shalat shubuh berjamaah  dan kuliyah shubuh
     5.  06.00 –  09.00   = mandi, qoilulah (tidur sejenak)
     6.  09.00 -  10.30    = session ke  38  : TELAAH KITAB HP TARJIH   BAB 15  
     7. 10.30 – 12.00    =  session ke  39   : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 15  oleh Bpk.
     8. 12.00 – 12. 30   = shalat dhuhur berjamaah   
     9. 12.30 – 15.00    = tidur siang
10. 15.00 -  16.30    = session ke 40 : TELAAH KITAB HP TARJIH BAB 16
   11. 16.30 – 17.30    = mandi sore/ pengajian menjelang ta’jil
   12. 17.30 – 19.00   = ta’jil
shalat maghrib berjamaah / takbir (I'tikaf malam kesepuluh)
berbuka puasa
shalat isyak berjamaah
    13. 19.00  -  21.30   = session ke  41  : dialog pasca I'tikaf
                                         oleh : Bp.
    14. 21.30  -  23.00   = session ke   42 :  dialog pasca I'tikaf
    15. 23.00 – 24.00    = tidur                                        
10.  HARI : ……………….., TANGGAL :    -     -    - 
01.00 –  02.00   = tidur
02.00  -  03.00   = Shalat lail / tahajjud berjamaah
03.00 –  04.00   = takbir
04.00 –  06.00   = shalat shubuh berjamaah  dan takbir
06.00 - …..        = pulang, persiapan shalat Idul Fithri
Keterangan Penting :
1.  Contoh Kepanitiaan
1. Susunan pengurus
a. Ketua
b. Sekret
c. Bendahara
d. seksi
1) konsumsi
2) pencari tutor/penceramah
3) penggalian dana
2. beaya
beaya pokok ialah per peserta :
a. 10 kali minum/sanck  ta’jil
b. 10 kali buka puasa 10 kali
c. makan sahur
d. 10 kali snack malam/jaburan tadarus
beaya bisa :
a. iuran per peserta,
b. atau mencari bantuan aghniyak dalam rangka pengkaderan umat / regenerasi pimpinan yang  berwawasan IMTAQ
c. atau ditanggung oleh takmir masjid / zakat mal / PDM / PCM / PRM
X. Materi   dan peserta
A. materi bisa hanya membahas satu permasalahan (seperti contoh diatas hanya tentang hadits )
B. bisa pula bervariasi, hadts, tafsir, fiqh, tarih, kemuhammadiyahan,  sejarah dan metodologi tarjih, dll
C. peserta diutamakan  pimpinan muh. /tokohb masyarakat / takmir/ remaja masjid/ utusan dari PCM sekab/kodya, PRM ke kecamatan.

LAILATUL QADR  / NUZULUL QUR’AN / I’TIKAF
MUHAMMAD  BUSYROWI  ABDULMANNAN

1. LAILATUL QADR, artinya  : malam kepastian  ; malam kemuliaan
2. kata lailatul Qadr dan keterangannya  , terdapat pada QS Al Qadr
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ(1)وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ(2)لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ(3)تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّـهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ(4)سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ(5)
Artinya : “sungguh Aku turunkan Al Qur’an pada malam kepastian/kemuliaan . Dan apakah malam yang dipastikan. Malam kepastian lebih baik dari seribu bulan. Semua Malaikat dan Jibril turun pada malam kepastian dengan ijin Tuhannya untuk mengatur setiap urusan. Sejahtera hingga terbit fajar  ”.
3. dalam ayat itu dijelaskan :
a. Al Qur’an turun di suatu malam yang ditentukan / kemuliaan
     malam jumat ( ada yang menyebut senin ) , 17 Ramadhan  / 6 agustus 610 M
b. Keadan malam saat turun wahyu itu jika dibandingkan kebaikan apa saja selama seribu bulan ( 83 tahun 4 bulan, perhitungan qomariyah ) masih lebik baik
c. Pada saat turun wahyu itu semua malaikat  turun menyertai Jibril yang menyampaikan wahyu
d. Keadaan yang lebih baik dan penuh berkah dan kesejahteraan  itu berlangsung semalam hingga terbit fajar
4. kata Lailatul Qadr, disebut pula Lailatul Mubaarak, dalam QS Ad Dukhan : 3
5. kapan Lailatul Qadr terjadi , 
a. pendapat pertama, hanya terjadi   pada waktu Nabi menerima wahyu di gua Hira’,
b. pendapat kedua berulang terjadi setiap ramadhan, dan keadaannya sama ketika wahyu turun , yaitu lebih baik dari seribu bulan , pada tanggal berapa, ulama berbeda pendapat mengingat Nabi tidak secara pasti menyebutkan, diantaranya hadits rwayat Bukhari :
اُرِيْتُ لَيْلَةَ الْقَدَرِ ثُمَّ اُنْسِيْهَا
” aku diperlihatkan Lailatul Qadr, tapi kapan,  aku dilupakan Allah ”.
hadits riwayat Bukhari, Mulsim :
تَحَرَّوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْاَوَاخِرِ مِنَ رَمَضاَنَ
Artinya : “Carilah Lailatul Qadr di malam malam gasal dari sepuluh akhir Ramadhan”.
Rasulullah saw. mewanti-wanti agar umatnya memperhatikan lailatul qadr pada 10 malam terakhir. Beliau bersabda:
« تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ في الوَتْرِ مِنَ العَشْرِ الأوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ».
Carilah lailatul qadr pada tanggal ganjil di sepuluh malam terakhir bulan ramadhan. (HR. Bukhori)

c. Ibnu Arabi dalam Fatkhul Bari berkata, sebenarnya Lailatul Qadr itu tidaklah dapat diketahui oleh siapapun
= terjadi sepuluh hari akhir ramadhan ( malam 21 s.d. malam 30  ), sebagaaimana hadits riwayat Bukhari , Muslim
= terjadi malam tanggal gasal ssetelah tanggal 20, sebagaimana hadits riwayat Ahmad
6. bagaimana keadaannya jika pada suatu malam di bulan Ramadhan itu terjadi lailatul Qadr :
a. tak ada hadits yang menerangkan
b. Ubay bin Ka’ab salah satu sahabat Nabi menerangkan setelah terjadi Lailatul Qadr setelah fajar matahari terbit tanpa sinar yang terik. Namun ini hanya perasan beliau. Kenyataanya , sahabat lain tidak merasakan dan tidak menerangkan.
c. Sebagian lagi menerangkan, bahwa ketika terjadi Lailatul Qadr, angin berhenti, suara binatang malam berhenti, bulan bersinar cerah, tidak mendung, hawa terasa lain dirasakan badan. Namun sumber yang menerangkan itu siapa tidak jelas hanya dari mulut ke mulut. Jadi tak ada dasarnya, dan tak boleh dijadikan pegangan atau dijadikan materi pengajian / khutbah.  Membuat perkiraan / pengandaian namanyaTAKHAYUL , kalau kemudian diceritakan turun temurun namanya KHURAFAT.  Hal ini perbuatan keliru , kalau kemudian menjadi pegangan umat seterusnya.
7. yang penting bukan apa dan kapan serta bagaimana keadaannya. Tetapi ibadah yang mukhlish ( ikhlas ), bukan ibadah  karena tergantung  hal hal lain
8. ibadah yang pas menurut sunnah ialah dengan I’tikaf (  baca diktat kami tentang I’tikaf ), memperbanyak doa :
أَلَّلهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَـنِّى
YA ALLAH SUNGGUH ENGKAU  MAHA PENGAMPUN, ENGKAU MENCINTAI AMPUNAN, MAKA AMPUNILAH AKU
ADAPUN LAFAL : 
أَلَّلهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمُ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَـنِّى 
ADALAH BUKAN HADITS  , JANGAN DIAMALKAN

MENINGGALKAN SHALAT BERJAMAAH KARENA BERBUKA PUASA

Bismillahi walhamdulillahi washshalatu wassalamu ‘ala Rasulilahi, amma ba’d;

Saudaraku, tidak terasa sekarang kita sudah memasuki puasa Ramadhan yang ke-5. Adakah diantara kita yang bolong puasanya? Bersyukurlah kita kepada Allah karena masih diberikan kenikmatan menjalani puasa Ramadhan ini dengan iman dan harapan pahala dari Allah ta’ala. Bersabar bagi mereka yang belum bisa menjalankan puasa Ramadhan karena kondisi yang tidak memungkinkan (apakah karena sakit, haid, safar, dan semisalnya),

Saudaraku, inilah yang menjadi motivasi kita dalam menjalankan puasa Ramadhan hadits yang cukup masyhur di telinga kaum muslimin, dari Abu Hurairah, ia berkata,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa. Sedangkan yang dimaksud ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala. (LihatFathul Bari, 4: 115).

Saudaraku, setalah kita menjalankan puasa Ramadhan sesuai dengan tuntunan sunnah Nabi-Nya, ada kebiasaan buruk yang akan mengantar sebagian orang pada dosa, yaitu terlalu asyik menikmati sajian buka puasa sampai terlewat waktu shalat maghrib. Bahkan tidak sedikit diantara kaum muslimin meninggalkan shalat maghrib berjamaah di masjid, ini kerugian yang sangat besar.

Saudaraku, perhatikan nasehat emas dari ulama kita, tentang perkara ini sebagaimana yang disampaikan Syaikh Shalih al-Fauzan –hafizhahullah-, dalam kitabnya Al-Mulakhash Al-Fiqhi (1/381) beliau berkata:

Ada satu hal yang perlu diingatkan, yaitu;

👉✅ Terkadang sebagian orang duduk di meja hidangan buka puasa, lalu langsung makan malam.
⚠ Akhirnya, ia meninggalkan shalat Maghrib berjamaah di masjid.
☝Dengan sebab ini, ia telah melakukan kesalahan besar, (di antaranya);
1⃣ tertinggal dari shalat jamaah di masjid,
2⃣ terlewatkan dari pahala besar,
3⃣ menghadapkan dirinya pada hukuman/dosa.

📝 Adapun yang disyariatkan bagi seorang yang berpuasa adalah;
✅ berbuka terlebih dahulu,
✅ kemudian berangkat shalat,
✅ setelah itu baru makan malam.

Saudaraku, nasehat beliau ini bagi mereka yang lalai dalam menegakkan shalat namun tidak bagi yang mereka mampu menjaga shalat berjamaah di masjid. Di negara kita Indonesia, ada beberapa masjid yang menyediakan makan berat sebelum shalat maghrib ditegakkan (namun tidak sampai melampaui batas waktu shalat maghrib), dan ada juga masjid yang menyediakan pembatal puasa dahulu baru kemudian setelah shalat berjamaah usai dihidangkanlah makan berat. Insyaa Allah ini hanya teknis saja, tidak ada masalah selama kita bisa menjaga shalat jamaahnya dengan tertib.

Saudaraku, marilah ibadah mulia yang sedang kita jalani ini tidak melalaikan kewajiban yang lainnya. Tetaplah kita istiqamah dan bersemangat dalam menjalankan kewajiban yang Allah perintahkan, menjauhi segala larangan yang akan merusak amal ibadah kita. Terlebih marilah kita meraih cinta-Nya dengan amalan-amalan sunnah Nabi-Nya. 

Saudaraku, sebagai akhir kalam ini, supaya kita tambah bersemangat dalam meraih cinta Allah di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Perhatikanlah hadits yang disebutkan oleh Imam Nawawi Asy-Syafii dalam al-Arbâ’in al-Nawawiyyah, no.38. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda:

وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ.

Tidaklah hamba-Ku mendekat diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’” (HR Al-Bukhâri, no. 6502).

Saudaraku, marilah kita memohon kepada Allah, semoga Allah selalu memberikan ilmu yang bermanfaat, rizqi yang halal-thayib, dan menjadikan amalan kita diterima di sisi-Nya. Wallahu a’lam.[]

Kubah Emas Masjid Ulil Albab, kampus terpadu UII Yogyakarta.

Jum’at, 5 Ramadhan 1437 H/ 10 Juni 2016 M
Akhukum fiddin Fathurrahman Alkatitanji

Jenggot dalam Islam adalah ibadah

Jenggot dalam Islam adalah ibadah. Sama halnya seperti ibadah lainnya. Harusnya kebebasan memelihara jenggot bukan perkara besar di negara ini.

Hak tersebut harus diberikan kepada siapa saja yg ingin mengamalkannya. Tidak berbeda dengan ibadah-ibadah yg lain. Memelihara jenggot merupakan Hak Asasi Manusia, dalam hal kebebasan beragama sesuai syariat.

Namun sayang, fenomena jenggot panjang terdeskripsi sebagai hal yg berunsur negatif. Saat melihat seorang muslim 'berjenggot' dan mengenakan celana 'cingkrang', kemudian tiap hari pergi ke masjid, ada label 'teroris' yg dieratkan. Seolah-olah berjenggot menjadi ciri sesat, wajib disingkirkan, dan membawa malapetaka bagi lingkungan.

Bila melihat sisi berbeda ketika seorang lelaki menggunakan anting, atau menggimbal rambutnya, bahkan seluruh tubuhnya dipenuhi tato, kemudian berpakaian sobek, hingga tidak jarang terlihat aurat. Penampilan itu secara kasat mata terlihat seperti preman. Tapi tetap saja ada 'selintingan' kecil berunsur pembelaan. Orang-orang sibuk mengatakan 'jangan menuduh atau berburuk sangka sebab itu jiwa seni, dan siapa tahu hatinya seperti malaikat'.

Mungkin, itu menjadi sebab dari mata yg terlampau sering melihat banyak hal berbau maksiat. Kebiasaan yg membuat mata tak lagi cermat melihat sebuah hak dalam agama. Akibatnya, ibadah justru asing dipandang mata. Padahal memelihara jenggot merupakan perintah agama. Memelihara dan membiarkan jenggot tumbuh merupakan syari’at Islam dan ajaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana dijelaskan dalam beberapa hadits dibawah ini :

Hadits pertama, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ أَحْفُوا الشَّوَارِبَ وَأَوْفُوا اللِّحَى
“Selisilah orang-orang musyrik. Potong pendeklah kumis dan biarkanlah jenggot.” (HR. Muslim no. 625);

Hadits kedua, dari Abu Huroiroh radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
جُزُّوا الشَّوَارِبَ وَأَرْخُوا اللِّحَى خَالِفُوا الْمَجُوسَ
“Pendekkanlah kumis dan biarkanlah (perihalah) jenggot dan selisilah Majusi.” (HR. Muslim no. 626);

Hadits ketiga, dari Ibnu Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
خَالِفُوا الْمُشْرِكِينَ ، وَفِّرُوا اللِّحَى ، وَأَحْفُوا الشَّوَارِبَ
“Selisilah orang-orang musyrik. Biarkanlah jenggot dan pendekkanlah kumis.” (HR. Bukhari no. 5892);

Hadits keempat, dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
انْهَكُوا الشَّوَارِبَ ، وَأَعْفُوا اللِّحَى
“Cukur habislah kumis dan biarkanlah (peliharalah) jenggot.” (HR. Bukhari no. 5893).

=> Khusus untuk ana yg mengemban tugas sebagai anggota Polri, berjenggot pada dasarnya bukan menjadi penghalang dalam melaksanakan tugas. Jenggot bukan masalah besar dan tetap membuat ana bisa menjadi Polisi profesional. Jenggot ini adalah bentuk ketakwaan ana terhadap Alloh. Dengan berjenggot Insyaa Alloh ana tetap dapat menjalankan tugas untuk melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat sebagai wujud bakti pada nusa dan bangsa.

Jika ada yg berpendapat aneh ketika melihat polisi berjenggot, mungkin karena belum terbiasa saja. Namun Aneh...? Aneh dari sudut pandang mana ? Bukankan Rosululloh manusia terbaik dan paling mulia saja berjenggot. Bahkan para sahabat-sahabat beliau juga berjenggot, ulama juga demikian, dan para pahlwan Nasional kita berjenggot.

Jika larangan berjenggot disebabkan karena dalam tubuh Polri bukan muslim semua dan harus mengedepankan toleransi, rasanya sangat tidak masuk akal. Berjenggot bukan mempertanyakan toleransi antar agama, tapi bentuk ibadah. Sama seperti hijab bagi para Polwan. Jenggot dan hijab adalah bentuk ketakwaan, tidak ada kaitannya dengan toleransi. Apa karena jenggot dan hijab lantas tidak mencerminkan profesi seorang Polisi?

Rasanya yang terpenting adalah menunjukkan kinerja. Tidak lupa pula menjaga akhlak, komunikasi, saling menghormati, dan menolong sesama. Poin-poin tersebut lebih pantas dikedepankan daripada sibuk berpikiran negatif terhadap seorang muslim yg memelihara jenggot.

Ana berjenggot bukan ingin dikatakan UstadAbu Aliif Harits:
z. Berjenggot hampir sama dengan sholat, zakat, puasa yg bukan hanya diperintahkan untuk seorang ustadz. Ini hanya salah satu cara ana dalam melaksanakan ketaatan kepada Alloh. Bagi ana, jenggot ini perkara ibadah, yg mau melaksanakan silahkan, yg tidak ya... terserah pribadi masing-masing. Sebab, setiap perbuatan memiliki konsekuensi. Untuk jenggot ana pimpinan serta masyarakat memiliki penilaian tersendiri dalam hal ini.

Selamat bekerja...
Semoga Alloh mengampuni kita....

Ditulis di Bumi Alloh pada hari Sabtu, 21 Sya'ban 1437 H / 28 Mei 2016

Oleh : Hamba Alloh yg berlumur dosa dan mengharapkan ampunan-Nya.

-Abu Aliif Harits-